Biasanya seperti itu dikatakan orang tua, jika :
- Ada yang masalahin pola asuhnya.
- Ada yang kesel ngeliat sikap kasarnya kepada si anak.
- Ada yang protes ketidak mampuannya merawat, mengasuh, dan membimbing si anak.
Saya, sebagai orang tua, tentunya merasa kesal jika ada terjadi seperti yang diatas. Karena saya sebagai orang tua merasa yang paling berhak atas jiwa dan raga anak-anaknya.
Tapi pernahkah terpikir kita orang tua sudah mewujudkan hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang seperti apa yang mereka inginkan.
Saya sebagai orang tua, sampai saat ini masih menginginkan anak-anak menjadi anak tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang mandiri, yang tentu saja seperti yang saya sebagai orang tua inginkan. Ironis kan ?
Karena itulah, saya sebagai orang tua akan terus belajar karena seperti kutipan dari puisi Khalil Gibran : ANAKMU bukan anakmu ! dituliskan :
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.
Baru mampir lagi kesini, sampai harus ngereset password, Lupa bo’
Posting copy paste aja ah, dari blog yang lain
Setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri berbelanja kebutuhan untuk makanan ke pasar tradisional, yang lokasinya tidak jauh dari komplek tempat tinggal saya. Meski sekarang ini pasar modern (seperti supermarket atau minimarket) sudah menjamur di wilayah kami, namun berbelanja ke pasar tradisional tetap lebih menarik perhatian saya.
Dibandingkan dengan pasar modern, keadaan pasar tradisional memang tak jauh dari suasana kotor, becek kalau hujan (meski di tempat tinggal ibu saya di Jakarta Barat –> Pasar Kopro, Pasar Grogol dan Pasar Slipi, pasar tradisionalnya sudah jauh dari kesan becek) dan panas.
Belum lagi hiruk pikuk pedagang ketengan menawarkan jajaannya, serta tawar menawar antara pembeli dan penjual. Suasana yang tidak akan kita temui di pasar modern. Yang serba rapi, ruangannya berAC dan bersih.
Di pasar tradisional, pembeli dan penjual bisa menjalin keakraban dan saling mengenal. Sedangkan di pasar modern, bagaimana mau menjalin keakraban, si kasir mau tersenyum saja sudah syukur, belum lagi antrian panjang saat membayar, yang membuat kita harus buru-buru pergi setelah urusan bayar selesai.
Banyak yang bilang, mutu barang tradisional tidak sebaik kualitas di pasar modern, tapi buat saya itu semua tergantung pintar-pintarnya kita sebagai konsumen. Ngak hanya di pasar tradisional atau pasar modern, tetap saja bisa kita temui barang atau produk yang tidak baik kualitasnya.
Dengan itu semua, saya sih berharap semoga pasar tradisional tidak tergusur oleh keberadaan pasar modern yang semakin merambah wilayah-wilayah, bahkan wilayah terpencil.
Sebelum Menikah ………….
Cowok : Akhirnya aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama
Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi ?
Cowok : Tentu Tidak!!Jangan pernah kau berpikiran seperti itu
Cewek : Apakah Kau mencintaiku ??
Cowok : Tentu !! Selamanya akan tetap begitu
Cewek : Apakah kau pernah selingkuh ??
Cowok : Tidak !! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu
Cewek : Maukah kau menciumku ??
Cowok : Ya
Cewek : Sayangku…. …
Sesudah 10 tahun nikah….tinggal baca dari bawah ke atas
ps : makasih buat Fitra yang udah forward email garing ini
